<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SUKU JAWA</title>
	<atom:link href="http://www.sukujawa.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sukujawa.com</link>
	<description>Javanes Culture</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 May 2013 16:55:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Makanan Khas Suku Jawa</title>
		<link>http://www.sukujawa.com/makanan-khas-suku-jawa/</link>
		<comments>http://www.sukujawa.com/makanan-khas-suku-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 May 2013 15:26:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Ardhy Widodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan Khas Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[makanan jawa]]></category>
		<category><![CDATA[makanan khas jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukujawa.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Makanan khas Jawa di antaranya adalah rawon dan rujak petis. Surabaya terkenal akan rujak cingur, semanggi, lontong balap, sate kerang, dan lontong kupang. Kediri terkenal akan tahu takwa, tahu pong, dan getuk pisang. Madiun dikenal sebagai penghasil brem. Kecamatan Babat, Lamongan terkenal akan wingko babat nya. Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe. Bondowoso merupakan penghasil [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/TUMPENG.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-125" alt="TUMPENG" src="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/TUMPENG-300x200.jpg" width="300" height="200" /></a>Makanan khas Jawa di antaranya adalah rawon dan rujak petis. Surabaya terkenal akan rujak cingur, semanggi, lontong balap, sate kerang, dan lontong kupang. Kediri terkenal akan tahu takwa, tahu pong, dan getuk pisang. Madiun dikenal sebagai penghasil brem. Kecamatan Babat, Lamongan terkenal akan wingko babat nya. Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe. Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis. Gresik terkenal dengan nasi krawu, otak-otak bandeng,bonggolan dan pudak nya. Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya. Dan Trenggalek merupakan penghasil Tempe Kripik. Blitar memiliki makanan khas nasi pecel. Buah yang terkenal asli Blitar yaitu Rambutan.</p>
<p>Jagung dikenal sebagai salah satu makanan pokok orang Madura, sementara ubi kayu yang diolah menjadi gaplek dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di Pacitan dan Trenggalek.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sukujawa.com/makanan-khas-suku-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Upacara Kelahiran</title>
		<link>http://www.sukujawa.com/upacara-kelahiran/</link>
		<comments>http://www.sukujawa.com/upacara-kelahiran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 May 2013 12:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Ardhy Widodo St</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adat Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[brokohan]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[upacara kelahiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukujawa.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu tradisi kelahiran dalam budaya Jawa adalah Selapanan. Upacara Selapanan bertujuan memohon keselamatan bagi si bayi. Perlengkapan upacara yang dibutuhkan adalah sebagai berikut: - Golongan bangsawan: Nasi tumpeng gudangan, nasi tumpeng kecil yang ujungnya ditancapi tusukan bawang merah dan cabe merah, bubur lima macam, jajan pasar, nasi golong, nasi gurih, sekul asrep-asrepan, pecel ayam, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/DSC04033_thumb.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-118" alt="DSC04033_thumb" src="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/DSC04033_thumb.jpg" width="244" height="164" /></a>Salah satu tradisi kelahiran dalam budaya Jawa adalah Selapanan. Upacara Selapanan bertujuan memohon keselamatan bagi si bayi. Perlengkapan upacara yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:<br />
- Golongan bangsawan: Nasi tumpeng gudangan, nasi tumpeng kecil yang ujungnya ditancapi tusukan bawang merah dan cabe merah, bubur lima macam, jajan pasar, nasi golong, nasi gurih, sekul asrep-asrepan, pecel ayam, pisang, kemenyan, dan kembang setaman diberi air.<br />
- Golongan rakyat biasa: Tumpeng nasi gurih dengan lauk, nasi tumpeng among-among, nasi golong, jenang abang putih, ingkung dan panggang ayam.</p>
<p>Upacara terakhir dalam rangkaian selamatan kelahiran yang dilakukan pada hari ke 36 sesuai dengan weton atau hari pasaran kelahiran si bayi. Selapanan diadakan setelah maghrib dan dihadiri oleh si bayi, ayah, dukun, ulama, famili dan keluarga terdekat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sukujawa.com/upacara-kelahiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Upacara Kematian Jawa</title>
		<link>http://www.sukujawa.com/upacara-kematian/</link>
		<comments>http://www.sukujawa.com/upacara-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 May 2013 20:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Ardhy Widodo St</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adat Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[adat jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[upacara jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukujawa.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[ 1. Upacara Mendhak Tradisi Mendhak adalah salah satu ritual dalam adat istiadat kematian budayaJawa.Upacara tradisional ini dilaksanakan secara individu atau berkelompok untuk memperingati kematian seseorang. Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk upacara tradisional Mendhak adalah tumpeng, sega uduk, side dishes, kolak,ketan, dan apem. Terkadang, sebelum atau sesudah upacara Mendhak dilaksanakan,s anak keluarga dapat mengunjungi makam saudara [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/kematian.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-114" alt="kematian" src="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/kematian-300x199.jpg" width="300" height="199" /></a> <b>1. Upacara Mendhak</b></p>
<p>Tradisi Mendhak adalah salah satu ritual dalam adat istiadat kematian budayaJawa.Upacara tradisional ini dilaksanakan secara individu atau berkelompok untuk memperingati kematian seseorang. Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk upacara tradisional Mendhak adalah tumpeng, sega uduk, <i>side dishes</i>, kolak,ketan, dan apem. Terkadang, sebelum atau sesudah upacara Mendhak dilaksanakan,s anak keluarga dapat mengunjungi makam saudara mereka.Upacara tradisional ini dilaksanakan tiga kali dalam seribu hari setelah hari kematian. Pertama disebut Mendhak Pisan, upacara untuk memperingati satu tahun kematian (365 hari), kedua disebut Mendhak Pindho sebagai upacara peringatan dua tahun kematian, ketiga disebut sebagai Mendhak Telu atau Pungkasan atau Nyewu Dina, yang dilaksanakan pada hari ke seribu setelah kematian.</p>
<p><b>2. Upacara Surthanah</b></p>
<p>Upacara Surtanah bertujuan agar arwah atau roh orang meninggal dunia mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan. Untuk upacara ini perlengkapan upacara yang disiapkan dibedakan bedasarkan kasta. Untuk golongan bangsawan perlu menyiapkan tumpeng asahan lengkap dengan lauk, sayur adem yang tidak boleh pedas, pecel dengan sayatan daging ayam goreng/panggang, sambal docang dengan kedelai yang dikupas, jangan menir, krupuk, rempeyek, tumpeng ukur-ukuran, nasi gurih, nasi golong, dan pisang raja. Sedangkan untuk golongan rakyat biasa antara lain, tumpeng dengan lauknya, nasi golong, ingkung dan panggang ayam, nasi asahan, tumpeng pungkur, tumpeng langgeng, pisang sajen, kembang setaman, kinang, bako enak dan uang bedah bumi.Upacara ini diadakan setelah mengubur jenazah yang dihadiri oleh keluarga, tetangga dekat, dan pemuka agama.</p>
<p><b>3. Upacara Nyewu Dina</b></p>
<p>Upacara ini dilaksanakan untuk memohon pengampunan bagi kerabat yang sudah menghadap maha kuasa yang dilaksanakan seribu hari setelah kematian.Untuk upacara ini golongan bangsawan harus menyiapkan takir pentang yang berisi lauk, nasi asahan, ketan kolak, apem, bunga telon ditempatkan distoples dan diberi air, memotong kambing, dara atau merpati, bebek atau itik, dan pelepasan burung merpati. Sementara pada golongan rakyat biasa,  nasi ambengan, nasi gurih, ketan kolak,apem, ingkung ayam, nasi golong dan bunga yang dimasukan dalam lodong serta kemenyan.Upacara tersebut diadakan setelah maghrib dan diikuti oleh keluarga, ulama, tetangga dan para kerabat jenazah.</p>
<p><b>4. Upacara Brobosan</b></p>
<p>Upacara Brobosan ini bertujuan untuk menunjukkan rasa hormat dari sanak keluarga kepada orang tua dan leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Upacara Brobosan diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal, sebelum dimakamkan, dan dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua.</p>
<p>Tradisi Brobosan dilangsungkan secara berurutan sebagai berikut:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol start="1">
<li>Peti mati dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah upacara doa kematian selesai,</li>
<li>Anak laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, berjalan berurutan melewati peti mati yang berada di atas mereka selama tiga kali dan searah jarum jam,</li>
<li>Urutan selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di urutan pertama; anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang. Upacara tradisional ini menyimbolkan penghormatan sanak keluarga yang masih hidup kepada orang tua dan leluhur mereka. Jadi, jika yang meninggal itu anak-anak, atau remaja, brobosan itu tidak dilakukan.</li>
</ol>
<p>Menurut kepercayaan Jawa, setelah 1 tahun kematian, Arwah tersebut sudah memasuki dunia abadi untuk selamanya. Untuk memasuki dunia abadi, arwah harus menembuh jalan yang sangat panjang oleh sebab itu diadakan beberapa upacara untuk menemani perjalanan sang arwah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sukujawa.com/upacara-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adat Perkawinan Orang Jawa</title>
		<link>http://www.sukujawa.com/perkawinan-jawa/</link>
		<comments>http://www.sukujawa.com/perkawinan-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 May 2013 19:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Ardhy Widodo St</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adat Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[adat perkawinan jawa]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan orang jawa]]></category>
		<category><![CDATA[upacara jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukujawa.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Adat Perkawinan Budaya tanah Jawa masih menyimpan sejuta keindahan dan keagungan yang tetap dipegang teguh oleh masyarakatnya. Hal ini bisa dilihat dalam upacara pernikahan yang penuh makna dan unik. Beragam tradisi dan tata cara pernikahan menjadi bagian dari adat masing-masing wilayah. Berikut prosesi pernikahan adat Jawa yang umum dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya, yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b><a href="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/2.png"><img class="size-full wp-image-85 alignleft" alt="adat perkawinan" src="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/2.png" width="378" height="259" /></a>Adat Perkawinan</b></p>
<p>Budaya tanah Jawa masih menyimpan sejuta keindahan dan keagungan yang tetap dipegang teguh oleh masyarakatnya. Hal ini bisa dilihat dalam upacara pernikahan yang penuh makna dan unik. Beragam tradisi dan tata cara pernikahan menjadi bagian dari adat masing-masing wilayah. Berikut prosesi pernikahan adat <b>Jawa</b> yang umum dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya, yang kami paparkan dalam 5 babak.</p>
<p><b>BABAK I (PEMBICARAAN)</b></p>
<p>Tahapan ini intinya mencakup tahap pembicaraan pertama sampai tingkat melamar.</p>
<p><b>a. Congkog</b><br />
Seorang perwakilan/duta diutus untuk menanyakan dan mencari informasi tentang kondisi dan situasi calon besan yang putrinya akan dilamar. Tugas duta yang utama ialah menanyakan status calon mempelai perempuan, masih sendiri atau sudah ada pihak yang mengikat.</p>
<p><b>b. Salar</b><br />
Jawaban pada acara Congkog akan ditanyakan pada acara Salar yang dilaksanakan oleh seorang duta, baik oleh duta yang pertama atau orang lain.</p>
<p><b>c. Nontoni</b><br />
Setelah lampu hijau diberikan oleh calon besan kepada calon mempelai pria, maka orang tua, keluarga besar beserta calon mempelai pria datang berkunjung ke rumah calon mempelai wanita untuk saling &#8220;dipertontonkan&#8221;. Dalam kesempatan ini orang tua dapat membaca kepribadian, bentuk fisik, raut muka, gerak-gerik dan hal lainnya dari si calon menantu.</p>
<p><b>d. Nglamar</b><br />
Utusan dari orangtua calon mempelai pria datang melamar pada hari yang telah ditetapkan. Biasanya sekaligus menentukan waktu hari pernikahan dan kapan dilakukan rangkaian upacara pernikahan.</p>
<p><b>BABAK II (TAHAP KESAKSIAN)</b></p>
<p>Setelah melalui tahapan pembicaraan, dilaksanakanlah peneguhan pembicaraan yang disaksikan pihak ketiga, seperti kerabat, tetangga, atau sesepuh.<br />
<b>a. Srah-srahan</b><b> </b><br />
Penyerahan seperangkat perlengkapan sarana untuk melancarkan pelaksanaan acara hingga acara selesai dengan barang-barang yang masing-masing mempunyai arti dan makna mendalam di luar dari materinya sendiri, yaitu berupa cincin, seperangkat busana wanita, perhiasan, makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih, dan uang.</p>
<p><b>b. Peningsetan</b><b> </b><br />
Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan ditandai dengan tukar cincin oleh kedua calon mempelai.</p>
<p><b>c. Asok Tukon</b><br />
Penyerahan dana berupa sejumlah uang untuk membantu meringankan keluarga pengantin wanita.</p>
<p><b>d. Paseksen</b><br />
Yaitu proses permohonan doa restu dan yang menjadi saksi acara ini adalah mereka yang hadir. Selain itu, juga ada pihak yang ditunjuk menjadi saksi secara khusus yang mendapat ucapan terima kasih yang dinamakan<i>Tembaga Miring</i> (berupa uang dari pihak calon besan).</p>
<p><b>e. Gethok Dina</b><br />
Penentuan hari ijab kabul dan resepsi. Biasanya melibatkan seseorang yang ahli dalam memperhitungkan hari, tanggal, dan bulan yang baik atau kesepakatan dari kedua belah pihak saja.</p>
<p><b>BABAK III (TAHAP SIAGA)</b></p>
<p>Pembentukan panitia dan pelaksana kegiatan yang melibatkan para sesepuh atau sanak saudara.</p>
<p><b>a. Sedhahan</b><br />
Mencakup pembuatan hingga pembagian surat undangan.</p>
<p><b>b. Kumbakarnan</b><br />
Pertemuan untuk membentuk panitia hajatan dengan mengundang sanak saudara, keluarga, tetangga, dan kenalan. Termasuk membicarakan rincian program kerja untuk panitia dan para pelaksana.</p>
<p><b>c. Jenggolan atau Jonggolan</b><br />
Calon mempelai melapor ke KUA. Tata cara ini sering disebut <i>tandhakan</i>atau <i>tandhan</i>, artinya memberitahukan dan melaporkan pada pihak kantor pencatatan sipil bahwa akan ada hajatan pernikahan yang dilanjutkan dengan pembekalan pernikahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sukujawa.com/perkawinan-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JOGLO RUMAH TRADISIONAL SUKU JAWA</title>
		<link>http://www.sukujawa.com/joglo-rumah-tradisional-suku-jawa/</link>
		<comments>http://www.sukujawa.com/joglo-rumah-tradisional-suku-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 19:49:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Ardhy Widodo St</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peningalan Suku Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[joglo]]></category>
		<category><![CDATA[joglo pangrawit]]></category>
		<category><![CDATA[joglo sinom]]></category>
		<category><![CDATA[rumah joglo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukujawa.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Joglo merupakan rumah adat tradisional suku jawa. Ada bermacam-macam jenis rumah jonglo diantaranya joglo limas, joglo sinom, joglo pangrawit dan sebagainya. Rumah jenis joglo memiliki struktur bangunan yang unik dimana biasanya rumah tersebut memiliki dua bagian utama yaitu bagian pendapa yang biasanya ukuranya sangat luas, ruangan ini biasanya dipergunakan sebagai tempat meneriam tamu maupun tempat [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/Rumah-Joglo.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-88" alt="Rumah-Joglo" src="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/Rumah-Joglo.jpg" width="250" height="188" /></a>Joglo merupakan rumah adat tradisional suku jawa. Ada bermacam-macam jenis rumah jonglo diantaranya joglo limas, joglo sinom, joglo pangrawit dan sebagainya. Rumah jenis joglo memiliki struktur bangunan yang unik dimana biasanya rumah tersebut memiliki dua bagian utama yaitu bagian pendapa yang biasanya ukuranya sangat luas, ruangan ini biasanya dipergunakan sebagai tempat meneriam tamu maupun tempat untuk musyawarah. Sedangkan bagian kedua adalah bagian dalam dari rumah joglo yang biasanya bersifat tertutup untuk orang luar karena merupakan ruang privasi yang berupa kamar dapur dan sebagainya. Rumah joglo pada masa lampau biasanya hanya dimiliki oleh para pembesar atau orang-orang kaya saja.</p>
<p><b>Susunan Bangunan dan Ruangan dari Rumah Joglo</b></p>
<p>Pada dasarnya rumah jenis ini memiiki bentuk dasar berupa persegi panjang atau bujur sangkar. Pembangunan rumah joglo ini sama sekali tidak menggunakan paku, hal ini berbeda dengan pembangunan joglo yang kita jumpai pada jaman modern sekarang ini. Pembangunan rumah ini dulunya hanya menggunakan system knock down, sehingga setiap bagian bisa saling berkait dan menguatkan. Kita dapat menjumpai system ini pada rumah-rumah yang memiliki struktur bangunan lama.</p>
<p>Pada setiap rumah joglo selalu memiliki empat pilar pada ruangan utama atau pendoponya yang biasanya disebut dengan nama soko guru, inilah yang merupakan sebuah ciri unik dari pembangunan rumah tersebut yang tidak dimiliki oleh rumah jenis yang lain.</p>
<p>Pada arsitektur yang terdapat pada bangunan rumah joglo, seni arsitektur bukan hanya sekadar sebagai pemahaman seni konstruksi rumah, namun juga merupakan refleksi atau pencerminan dari nilai dan norma yang ada dalam masyarakat pendukungnya. Kecintaan manusia pada cita rasa sebuah keindahan, bahkan sikap religiusitasnya ikut terefleksikan dalam seni arsitektur rumah dengan gaya seperti ini.</p>
<p>Pada bagian pintu masuk rumah joglo memiliki tiga buah pintu, yakni pintu utama di bagian tengah dan pintu kedua yang berada di samping kiri dan disamping kanan pintu utama. Ketiga bagian pintu tersebut memiliki makna atau arti simbolis bahwa kupu tarung yang berada di bagian tengah untuk keluarga besar, sementara dua pintu di bagian samping kanan dan samping kiri untuk besan.</p>
<p>Pada ruang bagian dalam dari rumah joglo yang disebut gedongan pada umumnya dijadikan sebagai mihrab, tempat Imam untuk memimpin salat yang umumnya dikaitkan dengan makna simbolis sebagai tempat yang disucikan, sakral, dan dikeramatkan oleh pemilik rumah joglo tersebut. Selain itu gedongan biasanya juga merangkap sebagai tempat tidur utama yang dihormati dan pada waktu-waktu tertentu dan dijadikan sebagai ruang tidur pengantin serta bagi anak-anaknya.</p>
<p>Ruang depan dari rumah joglo yang biasanya disebut juga dengan nama jaga satru disediakan untuk umat dan terbagi menjadi dua bagian, pada bagian sebelah kiri untuk jamaah wanita dan sebelah kanan untuk jamaah pria. Masih pada ruang jaga satru di depan pintu masuk rumah tersebut terdapat satu tiang di bagian tengah ruang yang disebut tiang keseimbangan atau soko geder. Selain merupakan simbol kepemilikan rumah, tiang tersebut juga memiliki fungsi sebagai pertanda atau tonggak untuk mengingatkan para penghuni rumah joglo tersebut tentang keesaan Tuhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sukujawa.com/joglo-rumah-tradisional-suku-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Terbentuknya Suku Jawa</title>
		<link>http://www.sukujawa.com/sejarah-terbentuknya-suku-jawa/</link>
		<comments>http://www.sukujawa.com/sejarah-terbentuknya-suku-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 19:33:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Ardhy Widodo St</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suku Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[aji saka]]></category>
		<category><![CDATA[Satria pinandita]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah suku jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukujawa.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Awal mula kisah dari   suku bangsa Jawa dimulai dari datangnya seorang satria pinandita. Satria pinandita tersebut  yaitu Aji Saka. Ia termasuk orang yang menulis sebuah sajak. Sajak itu yang kini diakui sebagai huruf Jawa. Asal mula ini pun akhirnya digunakan untuk awal mula penanggalan kalender saka.Memahami definisi, bahasa, penggolongan sosial serta sistem kekerabatan suku Jawa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/suku-jawa.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-90" alt="suku jawa" src="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/suku-jawa.jpg" width="500" height="367" /></a>Awal mula kisah dari   suku bangsa Jawa dimulai dari datangnya seorang satria pinandita. Satria pinandita tersebut  yaitu <strong>Aji Saka</strong>. Ia termasuk orang yang menulis sebuah sajak. Sajak itu yang kini diakui sebagai huruf Jawa. Asal mula ini pun akhirnya digunakan untuk awal mula penanggalan kalender saka<b>.</b>Memahami definisi, bahasa, penggolongan sosial serta sistem kekerabatan suku Jawa merupakan bagian yang penting dari <a title="Suku Jawa" href="http://sukujawa.com/suku-jawa/suku-jawa.html"><i>asal usul suku Jawa</i></a>. Sesuai definisinya, suku Jawa adalah mereka yang merupakan penduduk asli di pulau Jawa bagian tengah dan timur. Selain itu, mereka juga melakukan komunikasi dengan ibu bapak maupun saudara sekitarnya dengan menggunakan bahasa Jawa. Itulah yang didefinisikan oleh Magnis-Suseno mengenai suku Jawa.</p>
<p>Selain definisi tersebut,   suku bangsa Jawa juga berkaitan dengan bahasa yang digunakan oleh suku Jawa juga penting diketahui. Ada dua jenis bahasa Jawa. Adapun dua jenis bahasa tersebut yaitu sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Bahasa Jawa Ngoko. Bahasa Jawa tersebut berdasarkan   suku Jawa digunakan kepada orang yang sudah akrab, orang yang lebih muda usianya atau lebih rendah status sosialnya.</li>
<li>Bahasa Jawa Kromo. Bahasa Jawa tersebut berdasarkan   suku Jawa digunakan kepada orang yang belum akrab, tetapi sebaya atau memiliki status sosial yang sama, serta kepada orang yang usianya lebih tua atau yang lebih tinggi status sosialnya.</li>
</ol>
<p>Kedua jenis bahasa tersebut memiliki peran dan waktu yang tepat untuk digunakan. Bahasa yang digunakan tersebut juga dapat menunjukkan bahwa suku Jawa memiliki penghormatan pada orang tua maupun orang muda. Asal usul suku Jawa juga telah menunjukkan bagaimana peran bahasa Jawa ketika digunakan sesuai fungsinya.Selanjutnya, berdasarkan   suku Jawa, terdapat penggolongan sosial, pada tahun 1960-an oleh seorang antropologi dari Amerika yang memiliki nama Clifford Geertz. Ia membagi suku Jawa ke dalam tiga golongan. Adapun tiga golongan yang dimaksud diantaranya.</p>
<ol>
<li>Golongan yang disebut kaum Santri. Kaum santri yaitu mereka yang menganut agama islam.</li>
<li>Golongan yang disebut kaum Abangan. Kaum abangan yaitu mereka yang hidupnya masih berpegang pada adat istiadat Jawa. Biasanya kaum ini disebut juga <i>kejawen</i>. Para kaum priyayi kuno biasanya masuk ke dalam golongan ini juga. Walaupun ada di antara mereka beragama Islam, namun demikian kewajiban-kewajibannya yang terdapat dalam rukun Islam tidak dijalankan secara utuh.</li>
<li>Golongan yang disebut kaum Priyayi. Kaum priyayi yaitu para pegawai atau para cendikiawan.</li>
<li>Adanya penggolongan sosial juga berkaitan dengan bahasa yang digunakan dalam melakukan komunikasi antara satu dengan yang lainnya. Suku Jawa memiliki tata cara sendiri dalam menunjukkan rasa hormatnya kepada orang yang lebih tua, pejabat, orang yang lebih muda dan sebagainya.</li>
</ol>
<p>Artikel Oleh :</p>
<p style="text-align: left;" align="center">Ahmad Raerah Arqi Suardi, A.A Noer Ramadhan, Muhammad Naufal Rezki, Muhammad Atbai Rifai</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sukujawa.com/sejarah-terbentuknya-suku-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Majapahit Merupakan Kerajaan Islam Sejak Awal</title>
		<link>http://www.sukujawa.com/kerajaan-majapahit/</link>
		<comments>http://www.sukujawa.com/kerajaan-majapahit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 18:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Ardhy Widodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kerajaan Tanah Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[kerajaan]]></category>
		<category><![CDATA[kerajaan jawa]]></category>
		<category><![CDATA[majapahit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukujawa.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Islamedia : Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasi si pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Islam Media" href="http://islamedia.co.nr/" target="_blank"><a href="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/majapahit-1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-92" alt="majapahit-1" src="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/majapahit-1.jpg" width="735" height="477" /></a>Islamedia</a> : Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasi si pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia.</p>
<p>Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara. Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini.</p>
<p>Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut. Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakt-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’. Karya Herman Janung Sinutama.</p>
<p>Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara. Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah yang berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat di masa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut. Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.</p>
<p>Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.</p>
<p>2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.</p>
<p>3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini. Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.</p>
<p>4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran suf, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu. Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo. Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisan Gajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’. Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.</p>
<p>5. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu. Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari Timur Tengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan ‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranakpinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaan Nusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.</p>
<p>Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarah itu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan.</p>
<p>Wallahu A’lam Bishshawab. [sejarah-kompasiana]</p>
<p>Sumber : <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit" target="_blank">Wikipedia</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sukujawa.com/kerajaan-majapahit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lomba Pembuatan Keris Tingkat Nasional 2012</title>
		<link>http://www.sukujawa.com/lomba-pembuatan-keris-tingkat-nasional-2012/</link>
		<comments>http://www.sukujawa.com/lomba-pembuatan-keris-tingkat-nasional-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 May 2013 18:02:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Ardhy Widodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukujawa.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sukujawa.com/lomba-pembuatan-keris-tingkat-nasional-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos Orang Jawa</title>
		<link>http://www.sukujawa.com/50/</link>
		<comments>http://www.sukujawa.com/50/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 May 2013 17:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Ardhy Widodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mitos Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukujawa.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat Jawa memiliki ikatan yang erat dengan alam. Itu juga sebabnya mereka sangat memperhatikan kejadian-kejadian alam sekitar sebagai pertanda bagi kejadian-kejadian lain. Sebenarnya hal itu bermula dari ilmu “titen”, yaitu ilmu mendeteksi suatu kejadian yang konstan, terjadi terus-menerus dan berkaitan dengan kejadian lain yang juga konstan berlangsung dalam kondisi yang sama atau serupa. Generasi akhir [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/primbon.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-94" alt="primbon" src="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/primbon-197x300.jpg" width="197" height="300" /></a>Masyarakat Jawa memiliki ikatan yang erat dengan alam. Itu juga sebabnya mereka sangat memperhatikan kejadian-kejadian alam sekitar sebagai pertanda bagi kejadian-kejadian lain. Sebenarnya hal itu bermula dari ilmu “titen”, yaitu ilmu mendeteksi suatu kejadian yang konstan, terjadi terus-menerus dan berkaitan dengan kejadian lain yang juga konstan berlangsung dalam kondisi yang sama atau serupa.</p>
<p>Generasi akhir yang tidak memahami filosofi ilmu titen ini, mereka menganggap sebagai mitos yang pada satu sisi dianggap kejadian magis dan diyakini sepenuhnya, ada juga yang mengaitkan dengan faham keagamaan tertentu dan dihukumi musyrik.</p>
<p>Tapi, di sini bukan tempatnya untuk memperdebatkan hal itu. Saya hanya ingin mengingat kembali, bernostalgia dengan wejangan kakek-nenek di masa lalu tentang mitos-mitos itu. Sekali lagi bukan untuk mempengaruhi atau menjerumuskan. Ini sekedar penyadaran bahwa masyarakat kita (khususnya Jawa) memiliki sistem budaya tersendiri yang sudah begitu mengakar.</p>
<p>Di antara mitos-mitos itu berkaitan dengan binatang. Pesan saya kalau ada yang masih ingat dengan mitos lain seputar binatang, tolong di share ya, supaya semakin lengkap wawasan saya. Silahkan simak ulasan berikut (Artikel ini saya muat di dua blog; didim76.multiply.com dan kangdim.wordpress.com):</p>
<p><strong>Manuk prenjak nitir (<em>burung prenjak berkicau terus</em>):</strong></p>
<p>Orang Jawa punya cara yang unik untuk mendeteksi kehadiran tamu. Bahkan cara mereka ini tergolong lebih canggih ketimbang CCTV atau radar, sebab mampu memprediksi jauh-jauh hari seperti apa tamu yang akan berkunjung ke rumahnya, yaitu ketika di depan rumahnya ada burung prenjak (pipit) yang terus-terusan berkicau.</p>
<p>Jika posisi si burung tepat di depan rumah atau sisi kanan rumah, tandanya akan ada tamu istimewa yang membawa kebaikan.</p>
<p>Jika posisi di sebelah kiri atau di belakang rumah, tandanya tamu yang akan datang membawa petaka.</p>
<p><strong>Kupu menclok ning omah (<em>kupu-kupu hinggap di dalam rumah</em>):</strong></p>
<p>Masih tentang cara memprediksi tamu yang akan datang, ternyata kupu-kupu juga bisa memberi gambaran seperti apa tamu yang akan menyambangi rumah kita.</p>
<p>Jika kupu-kupunya masuk rumah dan hinggap di meja atau kursi tandanya akan ada tamu yang datanf. Perhatikan juga bentuk dan warna kupu-kupunya sebagai cerminan seperti apa tamu yang akan datang.</p>
<p>Kalau kupu-kupunya berwarna putih cantik, yang akan datang juga putih cantik. Siapa tahu Luna Maya yang datang.</p>
<p>Tapi kalo yang masuk rumah kupu-kupunya hitam serem, berarti yang akan datang body guard atau orang yang akan nagih hutang, mungkin juga Nurdin M.Top.</p>
<p>Kalau kupu-kupu itu mengelilingi atau hinggap di badan si pemilik rumah, maka tamu yang akan datang adalah orang yang sangat dekat, bisa sahabat, saudara, pacar atau yang lain.</p>
<p><strong>Manuk dares manggung (<em>burung pungguk manggung</em>):</strong></p>
<p>Masih tentang burung, orang Jawa juga bisa memprediksi kejadian-kejadian di lingkungan sekitarnya melalui kicauan burung. Ini misalnya:</p>
<p>Kalau ada burung pungguk manggung sudah lewat tengah malam sampai jelang pagi, tandanya ada tetangga yang melahirkan.</p>
<p>Jika waktu manggungnya sebelum lewat tengah malam tandanya ada tetangga yang hamil di luar nikah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Manuk gagak mider-mider (<em>burung gagak berputar-putar di atas rumah</em>)</strong></p>
<p>Hati-hati kalau lihat burung gagak (garuda) berputar-putar di atas rumah. Sebab konon akan ada penghuni rumah yang segera meninggal. Mau tahu alasannya? Katanya sih burung gagak itu <em>nggondol nyowo </em>(membawa nyawa). Logis kan? Sebab kalau tidak membawa nyawa, mana bisa dia terbang berputar-putar di atas rumah?</p>
<p><strong>Pitik Jago kluruk (<em>ayam jantan berkokok</em>):</strong></p>
<p>Ayam, yang selama ini hanya kita kenal sebagai menu andalan KFC dan Mc D, ternyata mampu memberikan “tera” kepada masyarakat Jawa tentang apa yang akan atau sedang terjadi.</p>
<p>Kalau ada ayam jantang berkokok sore hari atau sebelum tengah malam, akan ada “pagebluk”(wabah penyakit) atau gangguan dari makhluk halus.</p>
<p>Kalau berkokoknya lewat tengah malam sampai menjelang pagi, tandanya sudah waktunya bangun pagi, terus senam pagi jangan lupa minum kopi.</p>
<p><strong>Bermimpi tentang ayam:</strong></p>
<p>Ini penting bagi para jomblowan-jomblowati yang sedang dalam proses mencari jodoh. Tidak perlu datang ke para normal untuk mengetahui seperti apa jodohnya. Kalau mimpi menangkap ayam dara, maka akan mendapat jodoh yang masih gadis atau perjaka.</p>
<p>Tetapi kalau yang didapat ayam yang sudah bertelur atau sedang mengeram, berarti jodohnya dah hamil duluan atau kalau cowok “sedang punya tanggung jawab atas kehamilan orang lain”, he he.</p>
<p>Parahnya lagi kalau yang didapat ayam yang sudah beranak, berarti jodohnya ya janda beranak tiga, empat sampai dua belas (di sesuaikan dengan jumlah ayam yang di dapet).</p>
<p><strong>Mimpi tentang jenis anak yang sedang dikandung istri:</strong></p>
<p>Di zaman serba canggih sekrang ini, kedokteran sudah mampu memberi jawaban hampir pasti tentang jenis kelamin anak yang masih dalam kandungan. Tapi kan perlu biaya dan kadang suami males nganter istri ke dokter. Jangan khawatir, moyang kita orang jawa punya cara yang murah meriah, lewat mimpi.</p>
<p>Konon kalau mimpi melihat binatang jenis ternak berkaki empat (sapi, kerbau, kambing, komodo, dinosaurus, keledai, kadal dll) maka anak yang dikandung istri berjenis laki-laki.</p>
<p>Tapi kalau yang dilihat dalam mimpi jenis binatang unggas (burung, ayam, Angsa, bebek, dll), maka anaknya kemungkinan besar berjenis perempuan.</p>
<p>Masalahnya kemudian, mitos Jawa tidak menjelaskan apa jenis anak kalau yang dilihat dalam mimpi jenis binatang yang bukan ternak berkaki empat dan bukan juga jenis unggas. Misalnya mimpi lihat ulat, ular, kodok, nyamul, mikroba, virus flu babi, flu burung bahkan virus HIV. Barang kali kalau yang dilihat jenis yang gituan anaknya tidak jelas juga, laki-laki bukan perempuan juga bukan?</p>
<p><strong>Mimpi bertemu Ular </strong></p>
<p>Kayaknya sudah pada tahu deh, kalau kita mimpi ketemu ular, apalagi digigit, itu tandanya kita akan ketemu calon jodoh, pacar atau idola.</p>
<p><strong>Mimpi bertemu harimau</strong></p>
<p>Kalau ada yang bermimpi di tengah malam bertemu harimau atau sejenis, siap-siap saja besok atau beberapa hari lagi akan bertemu dengan seorang tokoh besar.</p>
<p><strong>Mimpi bertemu anjing</strong></p>
<p><strong> </strong>Lain lagi kalau mimpinya ketemu anjing, berarti orang tersebut akan mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Apalagi sampi digigit anjing itu. Dalam mitos Jawa anjing identik dengan kehadiran setan.</p>
<p><strong>Menabrak kucing</strong></p>
<p>Ini mitos yang sudah dikenal luas, kalu pas kita bepergian lalu tanpa sengaja menabrak kucing, hati-hati saja. Sebab bisa jadi kita juga akan mengalami kecelakaan di jalan.</p>
<p>Dan Masih Banyak lagi mitos mitos lain&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sukujawa.com/50/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Adat Istiadat Orang Jawa</title>
		<link>http://www.sukujawa.com/tentang-adat-istiadat-orang-jawa/</link>
		<comments>http://www.sukujawa.com/tentang-adat-istiadat-orang-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 21:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Ardhy Widodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adat Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[adat jawa]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mitoni]]></category>
		<category><![CDATA[Sunan kalijaga]]></category>
		<category><![CDATA[tingkepan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukujawa.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu ketika Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat orang Jawa Selamatan, bersaji dan lain-lain tidak langsung di tentang, sebab orang Jawa akan lari menjauhi ulama jika ditentang secara keras.Adat istiadat itu diusulkan agar diberi warna unsur Islami. Sunan Ampel bertanya atas usulan Sunan Kalijaga itu. &#8221; Apakah adat-istiadat lama itu nantinya tidak mengkhawatirkan bila [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/kalijaga.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-96" alt="kalijaga" src="http://sukujawa.com/wp-content/uploads/2013/05/kalijaga-212x300.jpg" width="212" height="300" /></a>Pada suatu ketika <strong>Sunan Kalijaga</strong> mengusulkan agar adat istiadat orang Jawa Selamatan, bersaji dan lain-lain tidak langsung di tentang, sebab orang Jawa akan lari menjauhi ulama jika ditentang secara keras.Adat istiadat itu diusulkan agar diberi warna unsur Islami.</p>
<p><strong>Sunan Ampel</strong> bertanya atas usulan <strong>Sunan Kalijaga</strong> itu.</p>
<p>&#8221; Apakah adat-istiadat lama itu nantinya tidak mengkhawatirkan bila dianggap ajaran Islam ? Padahal yang demikian itu tidak ada dalam ajaran Islam.</p>
<p>Apakah hal ini tidak akan menjadi bid&#8217;ah ?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan <strong>Sunan Ampel</strong> ini dijawab oleh <strong>Sunan Kudus</strong>,</p>
<p>&#8221; Saya setuju dengan pendapat <strong>Sunan Kalijaga</strong>, sebab ada sebagian ajaran agama Hindhu &#8211; Budha yang mirip dengan ajaran Islam, yaitu orang kaya harus menolong orang fakir miskin.Adapun mengenai kekhawatiran Kanjeng <strong>Sunan Ampel</strong>, saya mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada orang Islam yang akan menyempurnakannya.&#8221;</p>
<p>Pendukung <strong>Sunan Kalijaga</strong> ada lima wali, sedang pendukung <strong>Sunan Ampel</strong> hanya dua yaitu <strong>Sunan Giri</strong> dan <strong>Sunan Drajat</strong>.Maka usulan <strong>Sunan Kalijaga</strong> yang diterima.Adat istiadat Jawa yang diwarnai Islami itu antara lain selamatan mitoni, selamatan mengirim do&#8217;a untuk orang mati(biasanya di sebut tahlilan/yasinan) dan lain-lain yang secara hakikatnya tidak bertentangan dengan aqidah Islam.</p>
<p>Dalam tradisi orang jawa sering dijumpai tradiri selamatan, jika di teliti dari kesemuanya merupakan wujud dari suatu doa.Doa dengan sanepan/perlambang,Doa bil isyaroh.</p>
<p>Doa bil isyaroh artinya berdoa di wujudkan dalam berbagai perlambang dan tingkah laku dalam kehidupan.Contoh yang nyata adalah orang bekerja,tentu saja pekerjaan yang baik dalam arti sebenarnya.Bekerja jika diniati yang benar maka merupakan suatu perwujudan dari doa dengan perbuatan nyata.</p>
<p>Dalam tradisi Jawa banyak kita jumpai acara selamatan yang sebenarnya merupakan doa bil isyaroh.misalnya selamatan mitoni atau tingkeban orang hamil.</p>
<p>Secara umum selamatan mitoni atau ningkebi orang hamil di laksanakan ketika kehamilan menginjak usia tujuh bulan.persediaan yang harus ada adalah tumpeng,procot,bubur merah putih atau disebut bubur sengkolo, sego(nasi) golong, rujak sepet, cengker gading dll.</p>
<p>Semua tersebut juga merupakan doa bil isaroh atau doa dengan perlambang.Perlambang itu antara lain sebagai berikut :</p>
<p>Tumpeng merupakan nasi yang di bentuk menyerupai kerucut, membentuk seakan-akan gunung kecil.Ini merupakan lambang suatu permohonan keselamatan.Gunung melambangkan kekokohan kekuatan dan keselamatan.</p>
<p>Procot.terbuat dari ketan yang di bungkus daun pisang, bulat memanjang.Dinamakan procot dengan harapan kelak lahirnya bayi procat-procot maksudnya mudah.</p>
<p>Bubur sengkolo.Bubur sengkolo itu merupakan bubur dengan warna merah dan putih.Merupakan lambang dari bibit asal-muasal kejadian manusia selepas <strong>Adam</strong> dan <strong>Hawa</strong>, yaitu diciptakan <strong>ALLAH</strong> melalui perantara darah merah dan darah putih dari ibu bapak kita.Harapan dari bubur sengkolo adalah mudah-mudahan yang punya hajad itu terlepas dari segala aral bahaya baik bayi ataupun keluarganya.</p>
<p>Sego atau nasi golong,merupakan sebuah doa agar rejekinya golong-golong artinya berlimpah ruah.</p>
<p>Rujak memiliki arti saru yen di ajak artinya tidak patut lagi kalau istri yang hamil tua diajak ajimak/saresmi lagi demi menjaga si jabang bayi dalam kandungan.</p>
<p>Cengkir maksudnya ngencengne piker artinya membulatkan tekad untuk kelak menyambut kehadiran sang anak yang merupakan titipan <strong>ALLAH</strong>.Bertekad untuk mendidik hingga menjadi anak yang berbudi pekerti luhur.</p>
<p>Dari kesemua adat istiadat orang Jawa itu merupakan doa dengan kiasan perlambang atau doa bil isyaroh.karena para leluhur Jawa dahulu memang penuh kehalusan dalam mengungkapkan isi hati.</p>
<p>Itulah kenapa para wali pada waktu itu sangat arif dan bijak.Menyentuh mereka menggunakan hati, sehingga Islam bisa di terima di hati para leluhur dahulu tanpa adanya unsur paksaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sukujawa.com/tentang-adat-istiadat-orang-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
